Education
Pasar Valuta Asing
Pengertian
Pasar valuta asing / foreign exchange secara sederhana dapat diartikan sebagai perdagangan mata uang asing / valuta suatu Negara dengan mata uang Negara lainnya. Dalam praktiknya tidak selamanya uang kertas yang diperjual belikan, tetapi sebagian besar berupa sekuritas. Oleh karena itu, secara lebih luas, dapat diartikan bahwa foreign exchange adalah semua tagihan dalam valuta asing pada bank-bank di luar negeri, wesel atau cek dalam valuta asing yang dapat diuangkan di luar negeri.
Jika seorang eksportir dari jepang menjual mobil kepada pembeli di Amerika Serikat, dalam penyelesaian transaksi tersebut ada beberapa pilihan. Pilihan pertama dibayar dengan mata uang dollar Amerika, yaitu mata uang Negara pembeli, eksportir di jepang harus menukarkan / menjual dollar yang diterimanya dari pembeli dengan mata uang negaranya sendiri, yaitu yen, karena hanya mata uang yen sajalah yang merupakan alat tukar resmi di jepang / legal leader. Setiap uang selain yen merupakan foreign exchange / valuta asing bagi jepang.
Pilihan kedua, apabila dibayar denga mata uang yen, jika ini dikehendaki oleh eksportir, pembeli mempunyai dollar harus menjual atau menukarkan mata uangnya dengan membeli yen. Pilihan ketiga adalah apabila dibayarkan dengan mata uang Negara tertentu yang telah disepakati bersama sebelumnya.
Dari contoh tersebut dapat dilihat bahwa dengan mata uang apapun pembayaran selalu memerlukan penukatan mata uang satu dengan mata uang lainnya. Masalah ini dapat diatasi melalui foreign exchange market / pasar valuta asing.
Tujuan transaksi valuta asing
Para peserta pasar yang terlibat dalam valuta asing mempunyai berbagai tujuan. Pada dasarnya, dapat dikelompokkan menjadi tiga motif, yaitu:
1. trading
2. hedging
3. speculating
Ada kalanya kita sulit membedakannya dengan jelas antara satu motif dengan yang lainnya. Di bawah ini adalah jenis-jenis transaksi yang dapat dikelompokkan secara lebih rinci:
1. untuk komersial; ekspor-impor, lalu lintas modal, lalu lintas jasa.
2. untuk funding; pinjaman valuta asing, kebutuhan cash flow.
3. untuk hedging; untuk keperluan hedging atas resiko perubahan kurs valuta asing.
4. untuk investasi; commercial investment, property investment, dan portofolio investment.
5. untuk individu; turis dan kebutuhan individu lainnya.
6. untuk marketmaking; bank-bank yang berdagang valuta asing menawarkan harga dua arah sebagai market maker.
7. untuk positioning taking; ada kalanya peserta pasar mengambil posisi dalam usaha mencari keuntungan dengan mengantisipasi pergerakan kurs mata uang dan tingkat bunga. Seni dari para dealer dalam posisi sangat tergantung pada kemampuannya menganalisa dan mengambil keputusan secara cepat. Masing-masing dealer akan menempatkan dirinya sebagai intraday dealer, short term, dan long term dari masing-masing mata uang yang ia tekuni. Dalam menjalankan perannya, tindakan mereka diatur oleh serangkaian ketentuan pasar dan batasan-batasan yang ditentukan oleh bank sendiri.
Hubungan Valuta Asing dan Krisis Moneter di Indonesia Tahun 1998
Sebelum para spekulan berulah terhadap mata uang rupiah, gubernur BI saat itu Soedradjad Djiwandono bertindak cepat. Ia menaikkan spread kurs intervensi rupiah terhadap dollar dari 8% menjadi 12% pada tanggal 11 juli 1997. Ini artinya BI akan melakukan intervensi (mengucurkan cadangan dollarnya) jika kurs dollar Amerika terhadap rupiah melewati batas tertinggi Rp 2.678,00 atau apabila dollar jatuh di bawah Rp 2.374,00. Dengan kisaran sebesar Rp 304,00 ini, pasar mempunyai ruang gerak yang lebih longgar.
Kisaran yang cukup lebar antara nilai jual dan nilai beli dollar Amerika terhadap rupiah tentunya akan memperbesar biaya yang akan di tanggung spekulan jika mereka mau main-main dengan rupiah. Katakanlah jika mereka nekat main borong dollar dan menjual rupiah secara besar-besaran dengan tujuan supaya rupiah jatuh, spekulasi ini agak sulit dilakukan. Hal ini disebabkan cadangan devisa yang ada di brankas BI sebesar 21 milliar US$ cukup untuk melayani spekulan. Apabila BI masih mempunyai pinjaman siaga sebesar 2 milliar US$.
Kebijakan BI memperlebar spread pada mulanya cukup manjur. Rupiah yang sempat melemah terhadap dollar Amerika, hingga mencapai Rp 2.511,00 dari Rp 2.432,00 sepekan sebelumnya, akhirnya mampu diredam, tetapi hanya bertahan sebentar.
Intervensi BI ternyata tidak mampu menahan serangan spekulan dan malah berakibat menguras cadangan devisa. Oleh karena itu BI memutuskan untuk menghapus band intervensi dengan membiarkan kurs mengambang mengikuti mekanisme pasar. Akan tetapi keputusan ini malah merupakan awal terjadinya krisis moneter di Indonesia, mulai awal tahun 1998 dan krisis ekonomi yang berkepanjangan akibat krisis moneter.
Bagi spekulan ulung, tentunya bukan hanya meramal atau mengutak-atik apa yang terjadi dengan valuta suatu Negara terhadap valuta Negara lain, namun langkah mereka sudah lebih jauh lagi, yaitu memerangi atau mendikte pasar uang pada sebuah Negara.
Itulah yang terjadi dengan kondisi mata uang di beberapa Negara ASEAN pada tahun 1997/1998. Kawasan dengan kondisi perekonomian yang sedang mengalami pertumbuhan pesat, memang mempunyai mata uang yang relative peka terhadap goyangan nilai mata uang dollar Amerika Serikat, yang selama ini dijadikan patokan. Dengan demikian, kondisi tersebut menjadi sasaran empuk para spekulan.
Para spekulan pada awalnya menyerang bath Thailand. Akibatnya Thailand terpaksa melakukan devaluasi. Kemudian langkah spekulan melebar ke Filipina, dan peso pun akhirnya ikut terpuruk terhadap dollar Amerika sehingga pemerintah Filipina mendevaluasi peso. Ringgit pun sempat goyah terhadap dollar Amerika.
Upaya Menahan Laju Serangan Spekulan
Melemahnya nilai rupiah terhadap dollar mulai pertengahan 1997 bisa jadi merupakan ulah para spekulan dari luar. Mereka menggoyang dengan melakukan aksi menjual rupiah dan memborong dollar secara besar-besaran. Tujuannya supaya rupiah melemah dan dollar menguat. Aksi ini berhasil mereka lakukan terhadap mata uang bath Thailand, peso Filipina dan belakangan ringgit Malaysia.
Dengan serangan ini mereka berhasil membobol benteng pertahanan yang dipasang Bank Sentral Thailand dan Filipina. Setelah kedua Negara tersebut menderita kerugian masing-masing 10 M US$ dan 2,5 M US$ kurs kedua mata uang negera tersebut yang semula merupakan kurs tetap akhirnya diambangkan. Pada saat itulah bath mengalami devaluasi 20% dan peso 11,5%.
Dengan demikian, biarkanlah system kurs valuta asing Thailand dan Filipina yang sebelumnya menganut kurs tetap, terutama terhadap dollar Amerika. Setelah menyerang bath dan peso, giliran spekulan mencoba menyerang ringgit dan rupiah. Bank sentral Malaysia terpaksa mengambangkan kurs ringgit terhadap dollar, dan mata uang itu sedikit mengalami depresiasi. Kurs rupiah terhadap dollar juga sempat goyang menghadapi spekulan. Namun, sebelum ulah spekulan mampu merontokkan rupiah, Gubernur BI Soedrajad Djiwandono dengan cekatan memperlebar spread kurs intervensi. Langkah memperlebar spread merupakan tindakan yang mendahului sebelum spekulan menyerbu rupiah. Dengan gejolak kurs mata uang di Asia Tenggara belakangan ini, memperlebar spread merupakan tindakan yang efektif untuk melindungi cadangan devisa sehingga tidak didikte oleh perkembangan pasar. Spread merupakan perbedaan kurs beli dan kurs jual (makin lebar spread otomatis makin meningkat cost bagi para spekulan. Dengan spread 12%, artinya BI akan melakukan intervensi apabila kurs dollar terhadap rupiah melewati batas Rp 2.678,00 atau apabila nilai dollar jatuh di bawah Rp 2.374,00. Dengan demikian kisaran Rp 304,00 ini transaksi antara rupiah dan dollar mempunyai ruang gerak lebih longgar sebelum BI campur tangan. Kisaran nilai beli dan jual dollar Amerika terhadap rupiah yang lebih lebar berarti resiko lebih besar bagi spekulan yang mau main-main dengan rupiah.
(Sumber: Pasar Financial dan Lembaga-lembaga Financial)